Puisi : Kau Sentuh Hatiku
Nukilan oleh : white Terima kasih atas pemberian Mu Terima kasih atas apa yang telah terjadi KAU selalu menemaniku tanpa ku sedrai KAU tak pernah biarkan aku sendirian menjalani hidup ini KAU selau menyertaiku terima kasih kerna KAU telah menyentuh hatiku di kala aku lalai di pentas duniawi KAU telah memperingatiku KAU selalu lupa memberi rancangan yang terbaik untukku walaupun aku selalu lupa pada... [Teruskan bacaan]
Puisi : Pelangi Suram
Nukilan oleh : Qisha Nur bersendirian di satu ruang memberi aku satu peluang mencoretkan lukisan yang berkarang menyerikan dengan warna yang riang bertaburan pasir yang bersinaran berkilauan berpancaran.. sudut hati yang di tusuk pedang berubah menjadi terang mengembalikan semangat yang goyang oleh ribut pasir yang tidak berperasaan hanya tahu melukakan mungkin itu satu kepakaran mungkin juga untuk... [Teruskan bacaan]
Puisi : Pintu Itu
Nukilan oleh : Syira Hussin Pintu itu, Bukakan untukku, Aku tak upaya, aku tak kuasa, Kudratku sebesar zarah, Tak tertanding akan kemampuanku. Pintu itu, Besar maknanya bagiku, Luas harapan buatku, Kerana… Takdirku tertulis di situ. Pintu itu, Bakal mencorak masa depanku, Tersemat cita-citaku yang tinggi menggunung, Terpahat impianku yang tinggi melangit, Imaginasiku memenuhi segenap kotak pemikiranku, Namun… Bayangan... [Teruskan bacaan]
Puisi : Srikandi di Tujuh Lembah
Nukilan oleh : HAWA ADAM Dia hanyalah srikandi semalam menunggang jasad di alam kelam mengutip mengumpul sisa silam menjejak tujuh lembah yang dalam hingga derita meminatinya dalam diam Di lembah gelita tenggelam srikandi bersama lupa dan alpa menunggang bangga kembara di rimba hanya kerana dia srikandi muda lalu dirampas dirantai pemburu durjana kerana dendam semalam mahu dilaksana Masa tiada lagi... [Teruskan bacaan]
Puisi : Kanvas Kenangan
Nukilan oleh : MYA ARISSA kanvas itu putih kucalitkan sedikit warna kuserlahkan sedikit ceria kunampakkan sedikit cahaya kanvas ini kucatitkan setiap kenangan indah momento tak terungkap oleh bait kata-kata kulukiskan warna warni pujangga yang setiap satunya punyai makna seribu bahasa di atas kanvas ini kulakarkan nama cinta kubentukkan menjadi satu jiwa yang harus diingati setiap masa yang harus kau... [Teruskan bacaan]
Puisi : Anak-Anak Itu
Nukilan oleh : HONEY NUR FAIZ Anak-anak itu berlari bukan berpesta tawa seperti kita yang bergembira raikan dusta dunia.. Anak-anak itu berkejaran bukan meraikan zaman riangnya seperti kita yang kian lalai dengan keasyikan dan keindahan kepalsuan.. Mereka menyusup di celahan batu mencari ruang untuk menyambung nyawa sedang kita menyusup dalam selimut berdengkur.. mengumpul mimpi yang palsu.. Anak-anak... [Teruskan bacaan]
Puisi : Diari gawai yang melukakan
Nukilan oleh : josena Malam 30.05.2010 terasa panjang, Kehangatan Gawai tidak dapat ku rasakan, Apa yang terbuku dihati hanya sebuah keresahan, Bila teringat hari itu kian mendatang. Malam 31.05.2010 selamat hari Gawai, Di rumah panjang semua begembira, Aku di sini hanya menyepi, Dua hari lagi pernikahannya kunjung tiba, Hati semakin sayu bila mengingati, Cinta yang dulu kian kecundang. Malam 01.06.2010... [Teruskan bacaan]
Puisi : Epilog perjalanan ini
Nukilan oleh : Mohd Nur Asri Hamden Kecil anak mata tatkala merenung dan mengamat, kitab-kitab ilmu yang tak terkira banyaknya, perlu diselusur perlu diamat. Pujangga lama pernah berpesan, kalau mengaji biar sampai ke China, tak usah dikira biar bertahan, usia di Bumi takkan disia. Ya! Kalau dulu, aku belajar untuk mengetahui aku belajar untuk membuat aku belajar untuk menjadi aku belajar untuk hidup... [Teruskan bacaan]
Puisi : Tiada dua
Nukilan oleh : winz hadir dirimu umpama mentari yang bersinar di balik kabut pagi tika dayung bertemankan kesepian airmata mu kutip bak mutiara sedihkah hati ketika tirai perpisahan berlabuh? kecewakah diri tika sayang mula bertaut? terlukakah jiwa ketika rindu bersambut hancurkah kasih dalam gerhana mencari bahagia dalam pilu mendambakan kasih setia? akan kembalikah senyum itu seperti dulu? akan bercahayakah... [Teruskan bacaan]
Puisi : Cinta Sebuah Iman Dan Takwa
Nukilan oleh : Matahari Perasaan hambar menyingkap diri Membuka jendela kenikmatan dunia Menangisi hati nurani seorang insan Sehingga membiarkan diriku terus menjejak Menjejak hatinya yang penuh nuriMu Ya Rabbi Sangkaan jiwaku tetap di dalam kalbunya Menadah tangan mencari keredaanNya Ketenangan jiwaku mula menebar Ketika melihat dirinya sedang bersujud kepadaMu Subhanallah Sungguh sempurna ciptaanMu Seakan... [Teruskan bacaan]
Puisi : Lembah Remaja
Nukilan oleh : Wazrul Shah Setiap detik Menggugah sabar Pengajaran tergali Tatkala lembaran awan Menembus sunggingan senyum Pada lirikan yang usai pergi Menjurus redha rahmatullah hakiki dunia kunjungan firdausi nyaman segar swargaloka anugerahNYA sepersi lembah remaja berselingan semu peloporlah lahar girang remaja membingkis asyik dan girang ilmu tegar dipangku mencelempong minda sedar buat hayat... [Teruskan bacaan]
Puisi : Mencari Diri
Nukilan oleh : AwaL Pandanglah pada tarian ombak Di situ ada CintaKu yang hanyut Dalam belahan badai membara Aku lelah dan minta di sapa Lihatlah pada bintang di langit di situ ada RinduKu menyala Dalam kelam bulan dan mentari Aku sepi dan minta dinyala Lihatlah pada pasir di Sahara Di situ ada Hatiku terdampar Dalam panasnya mentari dan dinginnya malam Aku menjerit dan minta dijulang Lihatlah pada... [Teruskan bacaan]
Puisi : Menghitung hari
Nukilan oleh : Mohd Nur Asri Hamden Perjalanan ini penuh tawa penuh tangis diam ketawa bila tangis bertandang Di saat tangis gugur ke pipi yang entah keberapa kalinya ini, aku terkenangkan mereka, mereka yang sudah berpergian jauh meninggalkanku, aku sebatang kara. Perjalananku menghitung hari menunggu detik kembali dengan hajat besar menyorakkan jayaku dari jalanan ini kepada mereka yang aku sayang kepada... [Teruskan bacaan]
Puisi : Pesan Guru
Nukilan oleh : cg.zai Murid Dengarlah pesan guru Kerna pesan guru ada hikmah Kerna pesan guru ada harapan Kerna pesan guru ada makna Murid Dengarlah pesan guru Kerna tidak punya makna Andai kiranya pesan itu dicerca, dihina, dikata Murid Dengarlah pesan guru Hormatilah guru Sayangi guru Kerna merekalah ibu bapamu Bagai ibubapamu Kerna mereka umpama polis Penjaga disiplin dikala leka Murid Dengarlah... [Teruskan bacaan]
Puisi : Ini Hari
Nukilan oleh : HONEY NUR FAIZ Ini hari tanpa bicara membuka mata hati seluas lautan lihat… dia di pesisir pantai itu sepertinya teguh mendabik dada namun tika ombak hadir teguhnya dijilat rakus utuhnya bercerai badan bak pepasir kecil dilarikan bah terkubur ia di tengah lautan dengar… suara alam bemunajat walau dicipta ia seluas langit membiru sedalam lautan dan segagah ombak setinggi mentari... [Teruskan bacaan]
Puisi : Pelangi Indah Untuk Sang Pari-Pari
Nukilan oleh : Matahari Angin jiwa menusuk ke kalbu Menebarkan cinta di langit bayang concertino Hati yang sentiasa cuba untuk mengerti Kehidupan yang penuh makna duniawi Kurangnya dikau di penjuru dunia Menjadi sakti si penjaga maya Cintamu tetap diiringi jiwa kegelisahan Pernah sekali terjatuh Ternyata kau bangkit jua mengenang kisah lama Saat pelangi memancarkan cahaya Saat itulah jiwamu dibasahi... [Teruskan bacaan]
Puisi : Terima Kasih Cikgu
Nukilan oleh : fieda an_nur Cikgu… semalam aku masih hijau, kau belai aku dengan alif,ba,ta hingga akhirnya, kau sirami aku dengan ABC hingga akhirnya, tiba satu saat aku bisa membaca,menulis,dan mengira, lantas ku tulis ‘Cikgu baik’. Cikgu… semalam waktu aku meningkat remaja, kau rotan aku dengan latihanmu, kau bebelkan aku dengan kata – kata arahanmu, kau marahkan aku... [Teruskan bacaan]
Puisi : Kecewa
Nukilan oleh : Sutiara Helaian hari ku selak lagi Titisan bening dingin di pipi Semalam ulang tahun berlalu dalam sepi Aku membilang apa yang ku miliki Hanya mimpi-mimpi, namun hidup gundah Cuma menganyam angan bahagia, tapi jiwa sengsara Dimanakah cinta yang sejati? Dalam nanar dan sasar aku meratap Sesalan menghukum diri Tuah selalu menjauh, malang seakan diwarisi Jiwa terlalu sarat duka Lemas ,... [Teruskan bacaan]
Puisi : Kenangan Semalam
12 October 2010
Kategori: puisi
1,170 views Catat Ulasan
Nukilan oleh : Nur Husna Asfina Diri ku….. Aku di sini mencari erti kasih sayang bayangan semalam erti kelukaan kesakitan lalu erti diwaktu zaman riang remajaku waktu diberi kasih dari abang ku…. Abang engkaulah tempat tuk aku….. Melepaskan segala duka lara dihatiku menghempaskan sesalan dan kesedihan menagis dan mengalirkan air mata ketika dibiarkan hingga kini kasih sayang mu ku... [Teruskan bacaan]
Puisi : Mengapa
12 October 2010
Kategori: puisi
526 views Catat Ulasan
Nukilan oleh : MUSALMAH MESRA Mengapa dikau tak lihat dapur apa ada beras di dalam tong apa ada gula di dalam balang apa ada ikan di dalam peti ais apa ada bahan makanan untuk anak-anaknya. Mengapa dikau biarkan anak bangsa sendiri mengapa dikau kejar nama dalam perjalanan hidupmu. Bukankah dikau akan kembali bukankah dikau akan jadi bangau tetapi mengapa dikau lupa hujan batu di negeri sendiri. MUSALMAH... [Teruskan bacaan]















